Posted by: sobbrie | January 20, 2009

Bahan Ajar Online Ilmu Komunikasi Universitas Terbuka

Assalamualaikum.

Teman-teman mahasiswa Universitas Terbuka, khususnya jurusan Ilmu Komunikasi, jika anda menginginkan Bahan Ajar Online (file pdf), silakan untuk mendownload ebook tersebut di halaman ini.

Modul- Modul di Bawah ini sebagian besar adalah sumbangan dari teman-teman Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Terbuka yang tersebar dari sabang sampai merauke.

Untuk itu, sebelumnya, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada teman-teman yang telah menyumbangkan modul-modul yang mereka miliki.

Ucapan terima kasih saya haturkan kepada:

  1. Saudara Bradley yang telah menyumbangkan modul-modul Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Budaya Dasar, Pengantar Sosiologi dan Perencanaan Program Komunikasi-nya.
  2. Saudari Anna Ibdillah yang telah menyumbangkan modul Pengantar Ilmu Komunikasi-nya

Bagi teman-teman yang memiliki modul yang belum tersedia di sini, kami harap untuk sudi mengirimkannya melalui email triplesobries@yahoo.co.id untuk kami upload di blog ini. Ingatlah, bahwa dengan berbagi ilmu, maka ilmu kita tidak akan hilang, namun, ilmu kita akan senantiasa bertambah karena orang yang meminta ilmu kita, akan memberikan ilmu yang baru kepada kita.

Modul yang tersedia antara lain adalah:

Analisis Sistem Informasi
Antropologi Pengantar
Bahasa Inggris 1
Bahasa Inggris 2
Filsafat dan Etika Komunikasi
Hubungan Masyarakat
Ilmu Alamiah Dasar
Ilmu Budaya Dasar
Komunikasi Antar Budaya
Komunikasi Bisnis
Komunikasi Internasional
Komunikasi Organisasi
Komunikasi Pemasaran
Komunikasi Persuasif
Komunikasi Politik
Komunikasi Inovasi
Komunikasi Massa
Logika
Manajemen Hubungan Masyarakat
Metodologi Penelitian Komunikasi
Opini Publik
Pendidikan Agama Islam
Perbandingan Sistem Komunikasi
Perencanaan Program Komunikasi
Perkembangan Teknologi Komunikasi
Pengantar Ilmu Hukum/Pengantar Tata Hukum Indonesia
Pengantar Ilmu Komunikasi
Pengantar Ilmu Politik
Publik Speaking
Psikologi Komunikasi
Sistem Ekonomi Indonesia
Sistem Hukum Indonesia
Sistem Komunikasi Indonesia
Sistem Politik Indonesia
Sistem Sosial Budaya
Sosiologi Komunikasi
Pengantar Statistik Sosial
Teknik Mencari dan Menulis Berita
Teori Komunikasi
Pengantar Ilmu Komunikasi

Posted by: sobbrie | November 11, 2008

Senyuman

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p {mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
Dalam penelitiannya Taufiq Pasiak menemui beberapa manula yang masih sehat, produktif dan aktif dikegiatan sosial. Secara tak sengaja Taufiq menanyakan mengapa mereka bisa sehebat ini. Berusia tua tetapi masih giat, sehat, produktif dan enjoy. Padahal, sebagian besar di antara mereka bukan orang kaya yang suka mempermak wajah, berplesiran ke mana mereka mau, dan membeli resep-resep awet muda yang canggih. Mereka rata-rata orang kampung dengan uang pas-pasan dan lebih banyak berada di kampung daripada berplesiran ke luar negeri.

Ada beragam jawaban, tetapi hampir semuanya memiliki 3 kebiasaan yang sama: 1. menikmati hidup 2. suka berjalan kaki dan 3. menerima sesuatu apa adanya.

Kemudian taufiq bertanya, apa arti hidup in indah?. Taufiq agak sedikit kaget karena 2 alasan yang diberikan. Hidup indah harus diwujudkan dalam bentuk rasa syukur yang tak terbatas dan disampaikan setiap saat ketika memperoleh kenikmatan. Dan karena itu, harus membagi kebahagiaan dengan orang lain, sekalipun cuma senyuman tersungging di bibir. Kaget yang dirasakan Taufiq atas jawaban yang diberikan ini sangat filosofis, tetapi dilaksanakan dengan cara-cara yang sederhana, ga neko-neko. Seorang kakek dari kampung terpencil berkata bahwa setiap bangun pagi, ia selalu bersyukur atas setiap tarikan napas yang tuhan berikan. Ia membayangkan betapa mahalnya ongkos “napas” kalau ia masuk rumah sakit karena asma. Ia harus membayar setiap mililiter oksigen yang dimasukan kedalam tubuhnya. Padahal, Tuhan tidak pernah mengirim kuitansi tagihan atas tarikan napas yang selama 67 tahun ini dipakainya.

Senyum Spontan
Senyum dan tawa adalah bentuk perwujudan emosi paling dasar dari manusia. Senyum membuat seseorang gembira. Kerana itu, senyum memiliki efek yang tidak sedikit dalam membentuk karakter seseorang. Tatkala tersenyum, Kita memadukan gerakan otot-otot wajah, tarikan napas, dan pusat emosi-rasio di otak. Koalisi 3 komponen ini mampu menghasikan efek besar bagi tubuh dan jiwa sekaligus. Otot-otot yang terlibat terutama adalah otot yang melingkari mata da bibir. Dua otot ini merupakan salah satu “penanda” ketuaan orang. Tidak heran, operasi untuk memudakan wajah antara lain dilakukan dengan mereparasi otot-otot ini. Padahal, tarikan (kontraksi) dan lepasan (relaksasi) otot-otot wajah dapat dilakukan secara gratis melalui senyum di bibir dan kegembiraan dari hati.

Otot-otot wajah diketahui mendapat pengaturan khusus dari otak. Kalu kita tersenyum diplomatis-politis, artinya senyum yang dibuat-buat dan mungkin tidak tulus, bagian otak yang bekerja adalah bagian bernama daerah premotorik. Sebaliknya, jika kita tersenyum spontan dan tulus, pusat bernama daerah motorik-lah yang mengatur otot-otot wajah. Zat kimia yang dilepaskan pun berbeda. Jika senyuman spontan dan tulus, ada lebih banyak zat kefalin dan endrofin yang dilepas. Zat pertama laiknya obat penghilang nyeri. Zat kedua seperti morfin; membuat kita gembira. Efeknya kemudian kembali ke otak, ke jiwa kita. Kegembiraan spontan itu sendiri dapat membuat wajah kita kelihatan lebih segar. Sedangkan, senyum diplomatis-politis membuat zat setres, seperti cortisol dan adrenalin sedikit meningkat karena otak kita harus bekerja berat untuk menyesuaikan kepalsuan-kepalsuan itu. Efeknya jelas: otot-otot wajah buka rileks, tetapi tegang. kita seperti menyeringai. Seorang pemain teater yang piawai sekalipun tidak sanggup mengubah efek otak terhadap otot-otot wajah jika itu sebuah kepalsuan dan kepura-puraan.

Tarikan napas antara senyuman spontan dan senyum diplomatis-politis juga sangat berbeda. Yang satu lebih lambat dan diiringi dengan denyut jantung yang lebih lambat, sementara yang satu lebih cepat disertai denyut jantung yang cepat bahkan berdebar-debar.

Senyum palsu
Ahli otak yang khusus menekuni bagaimana mengatur emosi positif dan negatif, Paul Ekman, membedakan dua jenis senyum: felt simle atau senyum spontan, yang dihayati dan motivasi oleh perasaan tulus; dan false smile atau senyum palsu yang sengaja dibuat untuk meyakinkan orang bahwa ada kegembiraan, ketulusan, kepolosan, dan kejujuran. Senyum palsu pernah dilakukan oleh semua orang, tetapi jauh lebih banyak dilakukan oleh kelompok diplomat, pedagang, politisi dan pekerja hubungan publik (public relation).

Senyum palsu bertujuan menunjukan kegembiraan sekalipun sebenarnya tidak. Senyum ditunjukan untuk meyakinkan orang bahwa ia tulus, gembira, atau polos. Senyum itu dilakukan untuk menutupi isi hati sebenarnya. Ia berusaha menyenangkan orang. Jika Anda tidak suka pada seseorang, lalu Anda tersenyum untuk menunjukkan bahwa Anda menunjukkan senyum palsu yang dinamakan phony Smiles. Sebaliknya, jika hati Anda sedang gundah gulana, sedih, dan susah karena suatu hal, tetapi Anda tersenyum untuk menunjukan keterangan dan kekuatan, maka Anda melakukan senyum palsu bernama masking smiles. Saat melancarkan senyum ini, Anda seperti memakai topeng masker) untuk menutupi perasaan sedih itu. Dalam beberapa hal, senyum palsu tidak sepenuhnya salah, terutama karena kegembiraan itu seperti virus flu; bisa menular dengan sangat cepat.

Taufiq sendiri termasuk orang yang agak sulit mengalami penularan senyum palsu itu, ini karena kebetulan dia sedikitnya bisa mengamati bagaimana perbedaan tarikan bibir dan gerakan otot wajah saat tersenyum. Kalau kita tersenyum spontan, apa lagi didasari oleh ketulusan da kepolosan, sudut bibir kita akan terangkat ke atas diikuti oleh kerutan pada daerah yang melingkari mata. Kalau kita melakukan masking smiles, misalnya karena ingin menarik simpatinya, dengan mudah dia dapat mengamati bahwa bukan otot di sekitar bibir yang berkontraksi, tetapi otot di bagian wajah lain yang menunjukkan ketegangan kita. Tentu, dia yakin, kita tidak mau merusak diri hanya untuk menarik simpati orang.

Namun jangan khawatir dengan senyum palsu yang kita buat. karena tidak selamanya senyum palsu itu jelek. Karena menurut Taufiq Pasiak, jika kita melakukan senyum palsu di rumah, di kamar, atau di ruang pribadi kita, malah efeknya bisa positif. Karena saat kita melakukan hal itu berarti kita sedang melakukan Facial bio feedback, yakni membuat senyum untuk mempengaruhi otak kita. Misalnya saat kita sedang sedih atau gundah gulana, cobalah tersenyum atau tertawa (tapi awas lho! jangan di depan umum ga nanggung resikonya), otak kita akan menangkap senyuman itu dan melepaskan zat tertentu yang kemudian mempengaruhi emosi kita. Taufiq pasiak menyebutkan hal ini dengan terapi wajah atau senam wajah. Ini sebuah olahraga untuk menyehatkan jiwa. demikian juga ketika kita sedang marah atau dongkol. Cobalah menggerak-gerakan otot di sekitar mulut kita, membentuk senyum palsu. Taufiq berani bertaruh bahwa amarah kita akan sedikit reda. Tentu lain soal jika senyum palsu ini dilakukan di depan orang lain.

Senyum dan tawa dapat menjadi obat melalui efek resonansi. Orang yang mudah senyum, biasanya mudah gembira. Kegembiraan ini dapat menular. Makin banyak kita tersenyum spontan dan tulus, makin banyak kita membagi kegembiraan kepada orang lain. Keceriaan dan keramahan wajah kita, apalagi dihiasi dengan senyum tulus, akan menjadi obat bagi bayak orang. Ini yang disebut para manula yang di temui Taufiq pasiak sebagai membagi kebahagiaan. Mensyukuri hidup dan menerima apa adanya.

Posted by: sobbrie | November 11, 2008

Senyuman

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Comic Sans MS”; panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Excelerate; panose-1:0 0 4 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p {mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
Dalam penelitiannya Taufiq Pasiak menemui beberapa manula yang masih sehat, produktif dan aktif dikegiatan sosial. Secara tak sengaja Taufiq menanyakan mengapa mereka bisa sehebat ini. Berusia tua tetapi masih giat, sehat, produktif dan enjoy. Padahal, sebagian besar di antara mereka bukan orang kaya yang suka mempermak wajah, berplesiran ke mana mereka mau, dan membeli resep-resep awet muda yang canggih. Mereka rata-rata orang kampung dengan uang pas-pasan dan lebih banyak berada di kampung daripada berplesiran ke luar negeri.

Ada beragam jawaban, tetapi hampir semuanya memiliki 3 kebiasaan yang sama: 1. menikmati hidup 2. suka berjalan kaki dan 3. menerima sesuatu apa adanya.

Kemudian taufiq bertanya, apa arti hidup in indah?. Taufiq agak sedikit kaget karena 2 alasan yang diberikan. Hidup indah harus diwujudkan dalam bentuk rasa syukur yang tak terbatas dan disampaikan setiap saat ketika memperoleh kenikmatan. Dan karena itu, harus membagi kebahagiaan dengan orang lain, sekalipun cuma senyuman tersungging di bibir. Kaget yang dirasakan Taufiq atas jawaban yang diberikan ini sangat filosofis, tetapi dilaksanakan dengan cara-cara yang sederhana, ga neko-neko. Seorang kakek dari kampung terpencil berkata bahwa setiap bangun pagi, ia selalu bersyukur atas setiap tarikan napas yang tuhan berikan. Ia membayangkan betapa mahalnya ongkos napas kalau ia masuk rumah sakit karena asma. Ia harus membayar setiap mililiter oksigen yang dimasukan kedalam tubuhnya. Padahal, Tuhan tidak pernah mengirim kuitansi tagihan atas tarikan napas yang selama 67 tahun ini dipakainya.

Senyum Spontan
Senyum dan tawa adalah bentuk perwujudan emosi paling dasar dari manusia. Senyum membuat seseorang gembira. Kerana itu, senyum memiliki efek yang tidak sedikit dalam membentuk karakter seseorang. Tatkala tersenyum, Kita memadukan gerakan otot-otot wajah, tarikan napas, dan pusat emosi-rasio di otak. Koalisi 3 komponen ini mampu menghasikan efek besar bagi tubuh dan jiwa sekaligus. Otot-otot yang terlibat terutama adalah otot yang melingkari mata da bibir. Dua otot ini merupakan salah satu
penanda ketuaan orang. Tidak heran, operasi untuk memudakan wajah antara lain dilakukan dengan mereparasi otot-otot ini. Padahal, tarikan (kontraksi) dan lepasan (relaksasi) otot-otot wajah dapat dilakukan secara gratis melalui senyum di bibir dan kegembiraan dari hati.

Otot-otot wajah diketahui mendapat pengaturan khusus dari otak. Kalu kita tersenyum diplomatis-politis, artinya senyum yang dibuat-buat dan mungkin tidak tulus, bagian otak yang bekerja adalah bagian bernama daerah premotorik. Sebaliknya, jika kita tersenyum spontan dan tulus, pusat bernama daerah motorik-lah yang mengatur otot-otot wajah. Zat kimia yang dilepaskan pun berbeda. Jika senyuman spontan dan tulus, ada lebih banyak zat kefalin dan endrofin yang dilepas. Zat pertama laiknya obat penghilang nyeri. Zat kedua seperti morfin; membuat kita gembira. Efeknya kemudian kembali ke otak, ke jiwa kita. Kegembiraan spontan itu sendiri dapat membuat wajah kita kelihatan lebih segar. Sedangkan, senyum diplomatis-politis membuat zat setres, seperti cortisol dan adrenalin sedikit meningkat karena otak kita harus bekerja berat untuk menyesuaikan kepalsuan-kepalsuan itu. Efeknya jelas: otot-otot wajah buka rileks, tetapi tegang. kita seperti menyeringai. Seorang pemain teater yang piawai sekalipun tidak sanggup mengubah efek otak terhadap otot-otot wajah jika itu sebuah kepalsuan dan kepura-puraan.

Tarikan napas antara senyuman spontan dan senyum diplomatis-politis juga sangat berbeda. Yang satu lebih lambat dan diiringi dengan denyut jantung yang lebih lambat, sementara yang satu lebih cepat disertai denyut jantung yang cepat bahkan berdebar-debar.

Senyum palsu
Ahli otak yang khusus menekuni bagaimana mengatur emosi positif dan negatif, Paul Ekman, membedakan dua jenis senyum: felt simle atau senyum spontan, yang dihayati dan motivasi oleh perasaan tulus; dan false smile atau senyum palsu yang sengaja dibuat untuk meyakinkan orang bahwa ada kegembiraan, ketulusan, kepolosan, dan kejujuran. Senyum palsu pernah dilakukan oleh semua orang, tetapi jauh lebih banyak dilakukan oleh kelompok diplomat, pedagang, politisi dan pekerja hubungan publik (public relation).

Senyum palsu bertujuan menunjukan kegembiraan sekalipun sebenarnya tidak. Senyum ditunjukan untuk meyakinkan orang bahwa ia tulus, gembira, atau polos. Senyum itu dilakukan untuk menutupi isi hati sebenarnya. Ia berusaha menyenangkan orang. Jika Anda tidak suka pada seseorang, lalu Anda tersenyum untuk menunjukkan bahwa Anda menunjukkan senyum palsu yang dinamakan phony Smiles. Sebaliknya, jika hati Anda sedang gundah gulana, sedih, dan susah karena suatu hal, tetapi Anda tersenyum untuk menunjukan keterangan dan kekuatan, maka Anda melakukan senyum palsu bernama masking smiles. Saat melancarkan senyum ini, Anda seperti memakai topeng masker) untuk menutupi perasaan sedih itu. Dalam beberapa hal, senyum palsu tidak sepenuhnya salah, terutama karena kegembiraan itu seperti virus flu; bisa menular dengan sangat cepat.

Taufiq sendiri termasuk orang yang agak sulit mengalami penularan senyum palsu itu, ini karena kebetulan dia sedikitnya bisa mengamati bagaimana perbedaan tarikan bibir dan gerakan otot wajah saat tersenyum. Kalau kita tersenyum spontan, apa lagi didasari oleh ketulusan da kepolosan, sudut bibir kita akan terangkat ke atas diikuti oleh kerutan pada daerah yang melingkari mata. Kalau kita melakukan masking smiles, misalnya karena ingin menarik simpatinya, dengan mudah dia dapat mengamati bahwa bukan otot di sekitar bibir yang berkontraksi, tetapi otot di bagian wajah lain yang menunjukkan ketegangan kita. Tentu, dia yakin, kita tidak mau merusak diri hanya untuk menarik simpati orang.

Namun jangan khawatir dengan senyum palsu yang kita buat. karena tidak selamanya senyum palsu itu jelek. Karena menurut Taufiq Pasiak, jika kita melakukan senyum palsu di rumah, di kamar, atau di ruang pribadi kita, malah efeknya bisa positif. Karena saat kita melakukan hal itu berarti kita sedang melakukan Facial bio feedback, yakni membuat senyum untuk mempengaruhi otak kita. Misalnya saat kita sedang sedih atau gundah gulana, cobalah tersenyum atau tertawa (tapi awas lho! jangan di depan umum ga nanggung resikonya), otak kita akan menangkap senyuman itu dan melepaskan zat tertentu yang kemudian mempengaruhi emosi kita. Taufiq pasiak menyebutkan hal ini dengan terapi wajah atau senam wajah. Ini sebuah olahraga untuk menyehatkan jiwa. demikian juga ketika kita sedang marah atau dongkol. Cobalah menggerak-gerakan otot di sekitar mulut kita, membentuk senyum palsu. Taufiq berani bertaruh bahwa amarah kita akan sedikit reda. Tentu lain soal jika senyum palsu ini dilakukan di depan orang lain.

Senyum dan tawa dapat menjadi obat melalui efek resonansi. Orang yang mudah senyum, biasanya mudah gembira. Kegembiraan ini dapat menular. Makin banyak kita tersenyum spontan dan tulus, makin banyak kita membagi kegembiraan kepada orang lain. Keceriaan dan keramahan wajah kita, apalagi dihiasi dengan senyum tulus, akan menjadi obat bagi bayak orang. Ini yang disebut para manula yang di temui Taufiq pasiak sebagai membagi kebahagiaan. Mensyukuri hidup dan menerima apa adanya.

Posted by: sobbrie | September 1, 2007

Puasa Menyehatkan Jiwa

Dari kajian ilmiah yang selama ini telah dilaksanakan, didapat sebuah fakta yang menarik untuk kita selami. Yaitu bahwa puasa dapat memberikan kesehatan jiwa. Hal ini seperti apa yang ditulis oleh Alan Cott dalam bukunya yang berjudul Fasting as a Way of Life dan Fasting the Ultimate Diet. Di dalam buku itu, disebutkan bahwa gangguan jiwa yang parah dapat direduksi dengan berpuasa. Adapun gangguan mental lain seperti susah tidur, rendah diri dan cemas berlebihan dapat pula direduksi dengan terapi berpuasa. Hal ini dibuktikannya dalam penelitian Alan Cott di Rumah Sakit Grace Square, New York.
Penelitian lain dilakukan oleh Dr. Nicolayev, guru besar di The Moscow Psychiatric Institute. Dengan membandingkan dua kelompok penderita gangguan kejiwaan, dengan satu kelompok mendapat terapi medis sedangkan kelompok yang lain mendapat terapi puasa yang dilakukan masing-masing selama tiga puluh hari. Dari eksperimen itu didapatkan bahwa pasien yang tidak dapat disembuhkan dengan terapi medik, dapat disembukan dengan terapi puasa. Selain itu, orang-orang tersebut tidak mengalami kekambuhan selama enam tahun kemudian.
Dengan fakta tersebut seharusnya menjadi celah bagi kita untuk mengatasi masalah kesehatan jiwa khususnya di Indonesia, yang kinisudah sangat mengkhawatirkan. Mengingat dari data statistik, sangat besar presentase warga Indonesia khususnya yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Bahkan, dari data Survey Kesehatan Rumah Tangga tahun 1995, di Indonesia diperkirakan 264 dari 1000 anggota rumah tangga menderita gangguan kesehatan jiwa. Gangguan kesehatan jiw tersebut biasanya berupa rasa cemas, depresi, stress, penyalahgunaan obat, kenakalan remaja hingga skizofrenia.
Penyebab gangguan kesehatan jiwa ini sangat banyak. Namun, menurut Prof. Dr. dr. H. Aris Sudijanto, Sp. Kj, guru besar psikiatri FK UNS, ada tiga golongan penyebab gangguan kesehatan jiwa ini. Pertama gangguang fisik, biologik atau organik. Penyebabnya antara lain berasaal dari faktor keturunan, kelainan di otak, penyakit infeksi, kecanduan obat dan alkohol. Kedua adalah gangguan mental, emosional atau kejiwaan. Penyebabnya antara lain karena salah asuh, hubungan yang patoogis di antara anggota keluarga disebabkan frustrasi, konflik, dan tekanan karena krisis, Ketiga adalah gangguan sosial atau lingkungan. Penyebabnya dapat berupa stressor psikososial (masalah dalam perkawinan, hubungan antarpersonal, masalah dalam pekerjaan, keuangan, hukum, dll).
Lalu bagaimana orang yang sehat mentalnya? Orang yang sehat mentalnya, menurut Prof. Dr. dr. H. Aris Sudijanto, Sp. Kj, memiliki ciri ada keserasian antara pikiran, perasaan, perilaku, dapat mandiri, bertanggung jawab, bersikap matang, serta dapat merasakan kebahagiaan dalam sebagian besar hidupnya. Jika salah satu dari ciri utama itu terganggu, berarti kesehatan jiwa individu tersebut dapat dikatakan telah terganggu.
Kondisi kesehatan mental dapat dicapai hanya dengan perubahan-perubahan simultan dalam berbagai bidang pembangunan di sekitar kita. Bisa berupa bidang industri, pendidikan, organisasi politik, spiritual, orientasi filosofis, struktur karakter, perilaku manusia, aktivitas kebudayaan suatu masyarakat, dll. Lalu, masyarakat seperti apa yang sejalan dengan tujuan kesehatan mental (jiwa) itu.
Sebagai solusinya, paling tidak ada empat ciri pembentuk dari struktur masyarakat yang sehat itu.
Pertama, masyarakat sehat adalah suatu masyarakat yang di dalamnya tak ada seorang manusia pun yang diperalat oleh orang lain, tetapi selalu (tak terkecuali) menjadi tujuan dirinya. Oleh karena itu, seharusnya tak ada seorang pun yang diperalat/memperalat diri sendiri.
Kedua, suatu masyarakat yang sehat mendorong aktivitas produktif setiap warganya dalam pekerjaannya merangsang perkembangan akal budi dan lebih jauh lagi, ia mampu membuat manusia untuk mengungkapkan kebutuhan batinnya berupa seni dan perilaku normatif kolektif.
Ketiga, masyarakat yang sehat adalah masyarakat dengan sifat-sifat rakus, eksploitatif, pemilikan berlebihan, narsisme, tak mendapat kesempatan untuk dimanfaatkan dalam meraup keuntungan material tanpa batas atau untuk semata-mata gengsi seseorang. Yakni di mana tindakannya menurut keyakinan pribadi menjadi sifat dasar dan penting; di mana oportunisme dan kurang memiliki pendirian dianggap asosial. Dalam arti lain, di mana hubungan dengan sesama tak terpisahkan (baca: menjadi masalah pribadinya juga) dari hubungan dengan diri sendiri.
Keempat, suatu masyarakat sehat adalah kondisi masyarakat yang memungkinkan orang bertindak dalam dimensi-dimensi yang dapat dipimpin dan diobservasi. Walaupun ia menjadi partisipan aktif dan ber- tanggung jawab dalam kehidupan masyarakat, selain sebagai tuan atas hidupnya sendiri.
Akhirnya, untuk mewujudkan kondisi kesehatan jiwa manusia seperti itu, maka kuncinya tidak lain adalah setiap kita harus melakukan peningkatan kualitas hidup yang dapat menjamin terciptanya kondisi sehat yang sesungguhnya, yaitu melalui terapi puasa.

Posted by: sobbrie | June 8, 2007

Sindroma Down

Sindroma Down

Categories