Posted by: sobbrie | September 1, 2007

Puasa Menyehatkan Jiwa

Dari kajian ilmiah yang selama ini telah dilaksanakan, didapat sebuah fakta yang menarik untuk kita selami. Yaitu bahwa puasa dapat memberikan kesehatan jiwa. Hal ini seperti apa yang ditulis oleh Alan Cott dalam bukunya yang berjudul Fasting as a Way of Life dan Fasting the Ultimate Diet. Di dalam buku itu, disebutkan bahwa gangguan jiwa yang parah dapat direduksi dengan berpuasa. Adapun gangguan mental lain seperti susah tidur, rendah diri dan cemas berlebihan dapat pula direduksi dengan terapi berpuasa. Hal ini dibuktikannya dalam penelitian Alan Cott di Rumah Sakit Grace Square, New York.
Penelitian lain dilakukan oleh Dr. Nicolayev, guru besar di The Moscow Psychiatric Institute. Dengan membandingkan dua kelompok penderita gangguan kejiwaan, dengan satu kelompok mendapat terapi medis sedangkan kelompok yang lain mendapat terapi puasa yang dilakukan masing-masing selama tiga puluh hari. Dari eksperimen itu didapatkan bahwa pasien yang tidak dapat disembuhkan dengan terapi medik, dapat disembukan dengan terapi puasa. Selain itu, orang-orang tersebut tidak mengalami kekambuhan selama enam tahun kemudian.
Dengan fakta tersebut seharusnya menjadi celah bagi kita untuk mengatasi masalah kesehatan jiwa khususnya di Indonesia, yang kinisudah sangat mengkhawatirkan. Mengingat dari data statistik, sangat besar presentase warga Indonesia khususnya yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Bahkan, dari data Survey Kesehatan Rumah Tangga tahun 1995, di Indonesia diperkirakan 264 dari 1000 anggota rumah tangga menderita gangguan kesehatan jiwa. Gangguan kesehatan jiw tersebut biasanya berupa rasa cemas, depresi, stress, penyalahgunaan obat, kenakalan remaja hingga skizofrenia.
Penyebab gangguan kesehatan jiwa ini sangat banyak. Namun, menurut Prof. Dr. dr. H. Aris Sudijanto, Sp. Kj, guru besar psikiatri FK UNS, ada tiga golongan penyebab gangguan kesehatan jiwa ini. Pertama gangguang fisik, biologik atau organik. Penyebabnya antara lain berasaal dari faktor keturunan, kelainan di otak, penyakit infeksi, kecanduan obat dan alkohol. Kedua adalah gangguan mental, emosional atau kejiwaan. Penyebabnya antara lain karena salah asuh, hubungan yang patoogis di antara anggota keluarga disebabkan frustrasi, konflik, dan tekanan karena krisis, Ketiga adalah gangguan sosial atau lingkungan. Penyebabnya dapat berupa stressor psikososial (masalah dalam perkawinan, hubungan antarpersonal, masalah dalam pekerjaan, keuangan, hukum, dll).
Lalu bagaimana orang yang sehat mentalnya? Orang yang sehat mentalnya, menurut Prof. Dr. dr. H. Aris Sudijanto, Sp. Kj, memiliki ciri ada keserasian antara pikiran, perasaan, perilaku, dapat mandiri, bertanggung jawab, bersikap matang, serta dapat merasakan kebahagiaan dalam sebagian besar hidupnya. Jika salah satu dari ciri utama itu terganggu, berarti kesehatan jiwa individu tersebut dapat dikatakan telah terganggu.
Kondisi kesehatan mental dapat dicapai hanya dengan perubahan-perubahan simultan dalam berbagai bidang pembangunan di sekitar kita. Bisa berupa bidang industri, pendidikan, organisasi politik, spiritual, orientasi filosofis, struktur karakter, perilaku manusia, aktivitas kebudayaan suatu masyarakat, dll. Lalu, masyarakat seperti apa yang sejalan dengan tujuan kesehatan mental (jiwa) itu.
Sebagai solusinya, paling tidak ada empat ciri pembentuk dari struktur masyarakat yang sehat itu.
Pertama, masyarakat sehat adalah suatu masyarakat yang di dalamnya tak ada seorang manusia pun yang diperalat oleh orang lain, tetapi selalu (tak terkecuali) menjadi tujuan dirinya. Oleh karena itu, seharusnya tak ada seorang pun yang diperalat/memperalat diri sendiri.
Kedua, suatu masyarakat yang sehat mendorong aktivitas produktif setiap warganya dalam pekerjaannya merangsang perkembangan akal budi dan lebih jauh lagi, ia mampu membuat manusia untuk mengungkapkan kebutuhan batinnya berupa seni dan perilaku normatif kolektif.
Ketiga, masyarakat yang sehat adalah masyarakat dengan sifat-sifat rakus, eksploitatif, pemilikan berlebihan, narsisme, tak mendapat kesempatan untuk dimanfaatkan dalam meraup keuntungan material tanpa batas atau untuk semata-mata gengsi seseorang. Yakni di mana tindakannya menurut keyakinan pribadi menjadi sifat dasar dan penting; di mana oportunisme dan kurang memiliki pendirian dianggap asosial. Dalam arti lain, di mana hubungan dengan sesama tak terpisahkan (baca: menjadi masalah pribadinya juga) dari hubungan dengan diri sendiri.
Keempat, suatu masyarakat sehat adalah kondisi masyarakat yang memungkinkan orang bertindak dalam dimensi-dimensi yang dapat dipimpin dan diobservasi. Walaupun ia menjadi partisipan aktif dan ber- tanggung jawab dalam kehidupan masyarakat, selain sebagai tuan atas hidupnya sendiri.
Akhirnya, untuk mewujudkan kondisi kesehatan jiwa manusia seperti itu, maka kuncinya tidak lain adalah setiap kita harus melakukan peningkatan kualitas hidup yang dapat menjamin terciptanya kondisi sehat yang sesungguhnya, yaitu melalui terapi puasa.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: