Posted by: sobbrie | November 11, 2008

Senyuman

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Comic Sans MS”; panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Excelerate; panose-1:0 0 4 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p {mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
Dalam penelitiannya Taufiq Pasiak menemui beberapa manula yang masih sehat, produktif dan aktif dikegiatan sosial. Secara tak sengaja Taufiq menanyakan mengapa mereka bisa sehebat ini. Berusia tua tetapi masih giat, sehat, produktif dan enjoy. Padahal, sebagian besar di antara mereka bukan orang kaya yang suka mempermak wajah, berplesiran ke mana mereka mau, dan membeli resep-resep awet muda yang canggih. Mereka rata-rata orang kampung dengan uang pas-pasan dan lebih banyak berada di kampung daripada berplesiran ke luar negeri.

Ada beragam jawaban, tetapi hampir semuanya memiliki 3 kebiasaan yang sama: 1. menikmati hidup 2. suka berjalan kaki dan 3. menerima sesuatu apa adanya.

Kemudian taufiq bertanya, apa arti hidup in indah?. Taufiq agak sedikit kaget karena 2 alasan yang diberikan. Hidup indah harus diwujudkan dalam bentuk rasa syukur yang tak terbatas dan disampaikan setiap saat ketika memperoleh kenikmatan. Dan karena itu, harus membagi kebahagiaan dengan orang lain, sekalipun cuma senyuman tersungging di bibir. Kaget yang dirasakan Taufiq atas jawaban yang diberikan ini sangat filosofis, tetapi dilaksanakan dengan cara-cara yang sederhana, ga neko-neko. Seorang kakek dari kampung terpencil berkata bahwa setiap bangun pagi, ia selalu bersyukur atas setiap tarikan napas yang tuhan berikan. Ia membayangkan betapa mahalnya ongkos napas kalau ia masuk rumah sakit karena asma. Ia harus membayar setiap mililiter oksigen yang dimasukan kedalam tubuhnya. Padahal, Tuhan tidak pernah mengirim kuitansi tagihan atas tarikan napas yang selama 67 tahun ini dipakainya.

Senyum Spontan
Senyum dan tawa adalah bentuk perwujudan emosi paling dasar dari manusia. Senyum membuat seseorang gembira. Kerana itu, senyum memiliki efek yang tidak sedikit dalam membentuk karakter seseorang. Tatkala tersenyum, Kita memadukan gerakan otot-otot wajah, tarikan napas, dan pusat emosi-rasio di otak. Koalisi 3 komponen ini mampu menghasikan efek besar bagi tubuh dan jiwa sekaligus. Otot-otot yang terlibat terutama adalah otot yang melingkari mata da bibir. Dua otot ini merupakan salah satu
penanda ketuaan orang. Tidak heran, operasi untuk memudakan wajah antara lain dilakukan dengan mereparasi otot-otot ini. Padahal, tarikan (kontraksi) dan lepasan (relaksasi) otot-otot wajah dapat dilakukan secara gratis melalui senyum di bibir dan kegembiraan dari hati.

Otot-otot wajah diketahui mendapat pengaturan khusus dari otak. Kalu kita tersenyum diplomatis-politis, artinya senyum yang dibuat-buat dan mungkin tidak tulus, bagian otak yang bekerja adalah bagian bernama daerah premotorik. Sebaliknya, jika kita tersenyum spontan dan tulus, pusat bernama daerah motorik-lah yang mengatur otot-otot wajah. Zat kimia yang dilepaskan pun berbeda. Jika senyuman spontan dan tulus, ada lebih banyak zat kefalin dan endrofin yang dilepas. Zat pertama laiknya obat penghilang nyeri. Zat kedua seperti morfin; membuat kita gembira. Efeknya kemudian kembali ke otak, ke jiwa kita. Kegembiraan spontan itu sendiri dapat membuat wajah kita kelihatan lebih segar. Sedangkan, senyum diplomatis-politis membuat zat setres, seperti cortisol dan adrenalin sedikit meningkat karena otak kita harus bekerja berat untuk menyesuaikan kepalsuan-kepalsuan itu. Efeknya jelas: otot-otot wajah buka rileks, tetapi tegang. kita seperti menyeringai. Seorang pemain teater yang piawai sekalipun tidak sanggup mengubah efek otak terhadap otot-otot wajah jika itu sebuah kepalsuan dan kepura-puraan.

Tarikan napas antara senyuman spontan dan senyum diplomatis-politis juga sangat berbeda. Yang satu lebih lambat dan diiringi dengan denyut jantung yang lebih lambat, sementara yang satu lebih cepat disertai denyut jantung yang cepat bahkan berdebar-debar.

Senyum palsu
Ahli otak yang khusus menekuni bagaimana mengatur emosi positif dan negatif, Paul Ekman, membedakan dua jenis senyum: felt simle atau senyum spontan, yang dihayati dan motivasi oleh perasaan tulus; dan false smile atau senyum palsu yang sengaja dibuat untuk meyakinkan orang bahwa ada kegembiraan, ketulusan, kepolosan, dan kejujuran. Senyum palsu pernah dilakukan oleh semua orang, tetapi jauh lebih banyak dilakukan oleh kelompok diplomat, pedagang, politisi dan pekerja hubungan publik (public relation).

Senyum palsu bertujuan menunjukan kegembiraan sekalipun sebenarnya tidak. Senyum ditunjukan untuk meyakinkan orang bahwa ia tulus, gembira, atau polos. Senyum itu dilakukan untuk menutupi isi hati sebenarnya. Ia berusaha menyenangkan orang. Jika Anda tidak suka pada seseorang, lalu Anda tersenyum untuk menunjukkan bahwa Anda menunjukkan senyum palsu yang dinamakan phony Smiles. Sebaliknya, jika hati Anda sedang gundah gulana, sedih, dan susah karena suatu hal, tetapi Anda tersenyum untuk menunjukan keterangan dan kekuatan, maka Anda melakukan senyum palsu bernama masking smiles. Saat melancarkan senyum ini, Anda seperti memakai topeng masker) untuk menutupi perasaan sedih itu. Dalam beberapa hal, senyum palsu tidak sepenuhnya salah, terutama karena kegembiraan itu seperti virus flu; bisa menular dengan sangat cepat.

Taufiq sendiri termasuk orang yang agak sulit mengalami penularan senyum palsu itu, ini karena kebetulan dia sedikitnya bisa mengamati bagaimana perbedaan tarikan bibir dan gerakan otot wajah saat tersenyum. Kalau kita tersenyum spontan, apa lagi didasari oleh ketulusan da kepolosan, sudut bibir kita akan terangkat ke atas diikuti oleh kerutan pada daerah yang melingkari mata. Kalau kita melakukan masking smiles, misalnya karena ingin menarik simpatinya, dengan mudah dia dapat mengamati bahwa bukan otot di sekitar bibir yang berkontraksi, tetapi otot di bagian wajah lain yang menunjukkan ketegangan kita. Tentu, dia yakin, kita tidak mau merusak diri hanya untuk menarik simpati orang.

Namun jangan khawatir dengan senyum palsu yang kita buat. karena tidak selamanya senyum palsu itu jelek. Karena menurut Taufiq Pasiak, jika kita melakukan senyum palsu di rumah, di kamar, atau di ruang pribadi kita, malah efeknya bisa positif. Karena saat kita melakukan hal itu berarti kita sedang melakukan Facial bio feedback, yakni membuat senyum untuk mempengaruhi otak kita. Misalnya saat kita sedang sedih atau gundah gulana, cobalah tersenyum atau tertawa (tapi awas lho! jangan di depan umum ga nanggung resikonya), otak kita akan menangkap senyuman itu dan melepaskan zat tertentu yang kemudian mempengaruhi emosi kita. Taufiq pasiak menyebutkan hal ini dengan terapi wajah atau senam wajah. Ini sebuah olahraga untuk menyehatkan jiwa. demikian juga ketika kita sedang marah atau dongkol. Cobalah menggerak-gerakan otot di sekitar mulut kita, membentuk senyum palsu. Taufiq berani bertaruh bahwa amarah kita akan sedikit reda. Tentu lain soal jika senyum palsu ini dilakukan di depan orang lain.

Senyum dan tawa dapat menjadi obat melalui efek resonansi. Orang yang mudah senyum, biasanya mudah gembira. Kegembiraan ini dapat menular. Makin banyak kita tersenyum spontan dan tulus, makin banyak kita membagi kegembiraan kepada orang lain. Keceriaan dan keramahan wajah kita, apalagi dihiasi dengan senyum tulus, akan menjadi obat bagi bayak orang. Ini yang disebut para manula yang di temui Taufiq pasiak sebagai membagi kebahagiaan. Mensyukuri hidup dan menerima apa adanya.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: